Minggu, 21 Februari 2010

Sekatenan di Yogyakarta


Sekatenan di Yogyakarta

Beberapa pekan silam saya berkunjung ke Yogyakarta. Ada hal yang berbeda yang saya temui ketika saya berkunjung ke alun-alun utara keraton Ngayogyakarta. Disana saya mendapati sekumpulan besar orang yang berjubel untuk berebut penganan yang telah disusun sedemikian rupa menyerupai sebuah gunung. Ya..., itulah tradisi grebeg sekaten yang biasa dilakukan untuk memperingati maulud nabi. Sekaten sendiri telah menjadi sebuah perayaan tahunan yang kerap diselenggarakan oleh pihak keraton Jogja. Sebenarnya, apa seh sekaten itu?
Kata ’Sekaten’ sebenarnya diadopsi dari kata Syahadatain, yaitu dua buah kalimat syahadah yang biasanya diucapkan oleh seseorang ketika orang tersebut akan memeluk agama Islam. Pada awalnya, oleh para Wali di Jawa, sekaten dilakukan untuk memikat perhatian warga Yogyakarta yang pada masa itu masih banyak yang belum memeluk agam Islam. Akan tetapi dalam perjalanannya, festival sekaten kemudian menjadi annual festival bagi kesultanan Yogyakarta. Selain sebagai peringatan akan adanya Maulud Nabi, festival sekaten juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik itu wisatawan domestik maupun luar negeri. Dengan menggelar berbagai atraksi seni dan budaya, festival sekaten memiliki ciri khas tersendiri di hati para penikmatnya.
Dalam perayaan sekaten, sebenarnya ada beberapa tahapan atau prosesi. Tahapan yang pertama biasa disebut sebagai ’Sekaten Sepisan’. Pada prosesi ini, pembukaan festival ditandai dengan dibunyikannya dua buah gong yang berjuluk Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Prosesi yang kedua adalah pemberian sedekah oleh Raja Kesultanan Yogyakarta, Sri Sultan HB X dengan menyebar ’undhik-undhik’ atau Uang kecil yang kemudian dilanjutkan dengan perarakan dua gong / gamelan menuju ke Masjid Agung Yogyakarta. Prosesi yang ketiga sekaligus menjadi perayaan penutup adalah Grebeg. Proses Grebeg Sekaten sendiri diawali dengan iring-iringan prajurit keraton yang mengawal gunungan sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat Yogyakarta atas berlimpahnya hasil bumi. Gunungan-gunungan tersebut kemudian diarak dari Pangelaran Keraton Yogyakarta menuju Masjid Agung. Disana, oleh para sesepuh keraton gunungan kemudian diserahkan kepada para ulama keraton untuk didoakan. Seusai didoakan, ke 4 gunungan yang merupakan sedekah raja yang berisi makanan dari hasil pertanian ini diarak keluar untuk kemudian diperebutkan oleh warga. Warga yang berebut gunungan percaya bahwa gunungan yang telah didoakan tersebut bisa membawa berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya.
Oya..., dalam perayaan sekaten ini, masyarakat Yogyakarta juga akan dihibur dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya lho, selain tentunya pasar malam juga. Adapun kesenian rakyat tradisional yang menyertai upacara perayaan sekaten ini adalah; terdapatnya stand-stand yang menjual berbagai makanan tradisional, mainan tradisional serta kesenian rakyat tradisional. Selain itu, ada juga pameran-pameran yang digelar guna mendukung perhelatan akbar ini seperti; pameran pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah maupun instansi sektoral, promosi pemasaran barang produksi dalam negeri, serta pameran cinderamata hasil karya warga lokal. Pokoknya keren abis deh....

0 komentar:

Posting Komentar