
Sekatenan di Yogyakarta
Beberapa pekan silam saya berkunjung ke Yogyakarta. Ada hal yang berbeda yang saya temui ketika saya berkunjung ke alun-alun utara keraton Ngayogyakarta. Disana saya mendapati sekumpulan besar orang yang berjubel untuk berebut penganan yang telah disusun sedemikian rupa menyerupai sebuah gunung. Ya..., itulah tradisi grebeg sekaten yang biasa dilakukan untuk memperingati maulud nabi. Sekaten sendiri telah menjadi sebuah perayaan tahunan yang kerap diselenggarakan oleh pihak keraton Jogja. Sebenarnya, apa seh sekaten itu?
Kata ’Sekaten’ sebenarnya diadopsi dari kata Syahadatain, yaitu dua buah kalimat syahadah yang biasanya diucapkan oleh seseorang ketika orang tersebut akan memeluk agama Islam. Pada awalnya, oleh para Wali di Jawa, sekaten dilakukan untuk memikat perhatian warga Yogyakarta yang pada masa itu masih banyak yang belum memeluk agam Islam. Akan tetapi dalam perjalanannya, festival sekaten kemudian menjadi annual festival bagi kesultanan Yogyakarta. Selain sebagai peringatan akan adanya Maulud Nabi, festival sekaten juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik itu wisatawan domestik maupun luar negeri. Dengan menggelar berbagai atraksi seni dan budaya, festival sekaten memiliki ciri khas tersendiri di hati para penikmatnya.
Dalam perayaan sekaten, sebenarnya ada beberapa tahapan atau prosesi. Tahapan yang pertama biasa disebut sebagai ’Sekaten Sepisan’. Pada prosesi ini, pembukaan festival ditandai dengan dibunyikannya dua buah gong yang berjuluk Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Prosesi yang kedua adalah pemberian sedekah oleh Raja Kesultanan Yogyakarta, Sri Sultan HB X dengan menyebar ’undhik-undhik’ atau Uang kecil yang kemudian dilanjutkan dengan perarakan dua gong / gamelan menuju ke Masjid Agung Yogyakarta. Prosesi yang ketiga sekaligus menjadi perayaan penutup adalah Grebeg. Proses Grebeg Sekaten sendiri diawali dengan iring-iringan prajurit keraton yang mengawal gunungan sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat Yogyakarta atas berlimpahnya hasil bumi. Gunungan-gunungan tersebut kemudian diarak dari Pangelaran Keraton Yogyakarta menuju Masjid Agung. Disana, oleh para sesepuh keraton gunungan kemudian diserahkan kepada para ulama keraton untuk didoakan. Seusai didoakan, ke 4 gunungan yang merupakan sedekah raja yang berisi makanan dari hasil pertanian ini diarak keluar untuk kemudian diperebutkan oleh warga. Warga yang berebut gunungan percaya bahwa gunungan yang telah didoakan tersebut bisa membawa berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya.
Oya..., dalam perayaan sekaten ini, masyarakat Yogyakarta juga akan dihibur dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya lho, selain tentunya pasar malam juga. Adapun kesenian rakyat tradisional yang menyertai upacara perayaan sekaten ini adalah; terdapatnya stand-stand yang menjual berbagai makanan tradisional, mainan tradisional serta kesenian rakyat tradisional. Selain itu, ada juga pameran-pameran yang digelar guna mendukung perhelatan akbar ini seperti; pameran pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah maupun instansi sektoral, promosi pemasaran barang produksi dalam negeri, serta pameran cinderamata hasil karya warga lokal. Pokoknya keren abis deh....
Selengkapnya...
Minggu, 21 Februari 2010
Sekatenan di Yogyakarta
Melangkah Menuju Sebuah Komitmen
Melangkah Menuju Sebuah Komitmen
Dalam setiap hidup manusia terkadang banyak hal yang perlu diingat dan dikenang sebagai sesuatu yang indah. Ketika pertama kali kita menginjak masa remaja dan mencoba mencari arti hidup untuk sebuah cinta pertama. Kekonyolan dan juga ketidaktahuan kita terkadang menjadi sebuah hal yang sangat menggelikan apabila diingat dimasa sekarang. Penampilan diri menjadi sebuah hal yang utama bagi kita sebelum mengeluarkan’zat-zat kimia’ yang akan dapat mengundang ketertarikan lawan jenis. Senyuman, rasa bangga dan gembira sekaligus perasaan takut bercampur aduk menjadi satu rasa yang entah sangat membingungkan untuk bisa dipikirkan dan dilukiskan.
Bualan-bualan cerita romantis melalui surat-surat cinta yang terkadang bisa sangat memalukan untuk dibaca setelah kita beranjak dewasa. Dan ketika kebersamaan yang ada, seolah-olah dunia menjadi milik berdua. Sungguh sesuatu hal yang menggelikan tetapi sangat menyenangkan. Olok-olokan teman seolah menambah rasa rasa itu dalam hati kita. Mungkin sebagai penyemangat ataupun bisa sebagai pelampiasan kecemburuan mereka atas ketidakberhasilannya mendapatkan si dia.
Mungkin hal ini memang merupakan bentuk pencarian jati diri kita sebelum kita benar-benar beranjak dewasa. Mendapatkan cinta tidak hanya sebagai alat untuk bersenang-senang melainkan untuk sebuah komitmen yang sebenarnya. Sebuah komitmen untuk saling mengerti, percaya, dan setia satu dengan yang lainnya. Tiga hal itulah yang sebenarnya bisa mendasari seseorang untuk berani melangkah menuju tahapan yang lebih serius lagi.
Perlu kita ketahui bahwa sikap saling mengerti merupakan cerminan diri untuk bisa berbuat lebih kepada pasangan kita. Dengan sikap saling pengertian, kita secara tidak langsung akan menghargai nilai-nilai keintiman agar tidak melanggar hak-hak pribadi yang masih dimiliki tiap-tiap pasangan. Hal kedua yang perlu dipupuk dalam sebuah komitmen adalah kepercayaan. Kepercayaan adalah ungkapan cinta yang utuh. Dengan sikap saling percaya, kita dan pasangan kita dapat menciptakan iklim yang baik bagi tumbuhnya benih-benih cinta diantara keduanya. Namun sebaliknya, ketidakpercayaan terhadap pasangan akan banyak menimbulkan kesalahpahaman, kecemburuan, atau bahkan rusaknya suatu hubungan. Hal yang ketiga adalah sikap saling setia. Kesetiaan mencerminkan kekuatan karakter. Terkadang kita sangat mudah dalam mengucapkan janji setia, namun terkadang sulit untuk menjalaninya karena banyak sekali godaan yang bisa menggoyahkan kesetiaan. Tapi dalam keadaan apapun kesetiaan harus dijaga, sebab tidak mungkin mempertahankan keindahan cinta tanpa adanya kesetiaan.
Jadi, dengan semua pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup kita dan dengan sebuah komitmen yang telah mengikat kita akankah kita menyelesaikan cerita kehidupan kita dengan akhir yang membahagiakan? Semua itu terserah pada anda.
Selengkapnya...
Yadnya Kasada di Puncak Bromo (2)

Yadnya Kasada di Puncak Bromo (2)
Dukun Suku Tengger
Dalam sebuah upacara Yadnya, prosesi perayaan suku tengger terbagi atas 4 bagian utama yaitu; pembacaan sejarah Kasada, Puja Stuti dukun Pandhita, Mulunen, dan Upacara Penutup atau oleh masyarakat Tengger biasa disebut sebagai Mekakat. Dari semua bagian upacara tersebut, prosesi Mulunen adalah yang paling menarik karena prosesi ini hanya ada di setiap perayaan Kasada saja. Mulunen sendiri adalah sebuah upacara pelantikan bagi dukun-dukun baru. Seseorang bisa diangkat /dikukuhkan menjadi seorang dukun apabila ia dapat merapalkan mantra pulun dengan baik. Setiap calon dukun baru akan diberikan kesempatan untuk merapalkan mantra ini sebanyak tiga kali. Pada saat acara Mulunen dimulai, para dukun baru yang akan dilantik akan diarak menuju pendapa utama di pelataran Pura Luhur Poten sebagai tempat ujian bagi sang dukun. Setelah sang dukun dinyatakan lulus dan telah mendapatkan pengukuhan dari dukun-dukun lainnya, sang dukun baru akan mendapatkan tugas pertamanya untuk Ngloka Pala Sraya atau sebagai bertugas sebagai pengajar agama Hindu bagi masyarakat lainnya. Sebenarnya dalam tradisi masyarakat Tengger, mereka mengenal mantra-mantra doa sebanyak 71 bab dan 165 lanjaran mantra dengan masing-masing mantra terdiri atas 4 bait. Bagi setiap dukun baru yang akan dilantik sebenarnya tidak hanya harus menguasai mantra pulun saja. Tapi setidaknya dia harus menghafal sedikitnya 50 persen dari total mantra yang biasa dipakai dan selebihnya bisa dihafalkan kemudian. Selain itu, pemahaman akan sejarah dan tradisi suku Tengger juga menjadi penilaian tersendiri dalam pengukuhan seorang dukun baru. Kewajiban lainnya yang harus dipenuhi bagi seorang dukun adalah dengan penguasaan kalender Tengger. Penguasaan akan kalender masyarakat Tengger diperlukan karena semua kegiatan yang terdapat dalam masyarakat Tengger harus berjalan sesuai dengan kalender tersebut.
Susunan masyarakat Tengger sebenarnya terbagi atas dua lapisan. Lapisan yang pertama adalah bagi kalangan pengajar atau dukun dan yang kedua adalah lapisan masyarakat biasa. Dalam lapisan yang pertama yaitu kalangan dukun, masih dibagi lagi menjadi dua bagian; dukun gedhe dan dukun-dukun cilik. Pengukuhan seorang dukun gedhe sendiri hanya bisa dilakukan melalui prosesi upacara di bulan kasada saja. Sedangkan bagi dukun kecil tidak melalui sebuah upacara. Dukun kecil menjadi sebutan bagi seseorang dalam masyarakat tersebut dikerenakan orang tersebut memiliki kelebihan dalam bidang tertentu seperti: dapat menyembuhkan orang lain / memiliki ilu ke-tabib-an. Adapun tugas seorang dukun gedhe atau dukun Panditha adalah untuk menjaga kesucian diri sendiri, menentukan hari baik untuk semua upacara keagamaan, melaksanakan suatu upacara ritual, serta pemimpin dan pembimbing bagi umat. Dalam hal ini, seorang dukun Panditha memiliki keanggotaan dalam struktur keorganisasian lembaga PHDI. Akan tetapi seorang dukun panditha dalam keorganisasian tidaklah mendapat gaji. Satu-satunya sumber penghasilan dari seorang dukun panditha adalah upah setelah memimpin suatu upacara keagamaan.
Unsur Agama
Sebetulnya sampai sekarang masih terjadi pertentangan akan jenis kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Tengger. Dalam prakteknya, masyarakat Tengger memang melakukan ibadah perayaan hampir sama dengan masyrakat Hindu pada umumnya. Tapi apabila dilihat lagi secara lebih seksama, masyarakat Tengger tidak sepenuhnya memiliki ciri yang sama. Dalam ritual keagamaan masyarakat Tengger, mereka tidak mengenal / merayakan upacara-upacara seperti Pagerwesi, Galungan, Saraswati seperti yang dilakukan orang Hindu pada umumnya. Mereka juga tidak melaksanakan upacara Waisak dan upacara-upacara Budha yang lainya.
Masyarakat Tengger memiliki keyakinan dan pandangan yang berbeda dengan agama-agama yang diakui di negara kita. Dalam perjalanannya, masyarakat Tengger biasa menyebut agama dalam dirinya sebagai Budho Tengger, sebuah ritual agama yang berbeda dengan tradisi Budha maupun Hindu. Akan tetapi, Budho Tengger bagaimanapun juga adalah agama orang Tengger dan merupakan ajaran tersendiri yang berbeda dengan ajaran Hindu dan Budha. Kepercayaan itu adalah hasil sebuah kebudayaan yang telah diturunkan selama berabad-abad. Tidak adanya pengakuan dari pemerintah mengenai aliran kepercayaan ini menjadikan perkembangan budaya masyarakat Tengger semakin lama semakin terancam. Setidaknya ada langkah-langkah tersendiri dari pemerintah dalam penanganan hasil budaya masyarakat Tengger dan bukannya terus mencoba memberantas habis tradisi lokal yang ada di Bromo ini.
Selengkapnya...
Yadnya Kasada di Puncak Bromo (1)
Yadnya Kasada di Puncak Bromo (1)
Seindah purnama yang bersinar ditengah malam,
Selembut belaian sinarnya yang menembus kelam,
Seiring nyanyian dewa-dewi diatas awan,
Kekhusyukan doa terdengar ditengah temaram.
Sepotong syair serta sinaran purnama diatas puncak Bromo seakan menjadi pertanda dimulainya prosesi suci masyarakat Tengger di bulan Kasada. Sebuah prosesi yang digelar di padang pasir luas di puncak Bromo dengan suhu dibawah 5 derajat celcius.
Dalam puncak perayaan Yadnya Kasada, perayaan akan digelar di pelataran Pura Luhur Poten, sebuah pura yang terletak di tengah-tengah laut pasir Tengger. Akan tetapi sebelum perayaan Yadnya dimulai, penduduk suku Tengger disibukkan dengan banyak hal. Sebagai persiapan prosesi ritual tersebut masyarakat suku Tengger di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan melaksanakan kerja bhakti secara gugur gunung (bersama-sama) membersihkan jalan-jalan desa. Jalan desa yang dibersihkan meliputi jalan-jalan yang akan dilewati selama prosesi Yadnya Kasada berlangsung, yakni mulai dari Desa Wonokitri hingga puncak Gunung Bromo dengan rute sepanjang 14 km.Acara gugur gunung ini sendiri diperkirakan bisa memakan waktu sampai dengan 2 hari sebagai sebuah persiapan awal yang masyarakat Tengger lakukan untuk menyempurnakan prosesi Yadnya. Beberapa hari sebelum upacara puncak bulan Kasada, masyarakat Tengger juga melaksanakan “Mendak Tirta”. Mendak Tirta sendiri adalah prosesi pengambilan air suci dari sumber-sumber air di gugusan Gunung Bromo yang nantinya akan digunakan sebagai kelengkapan dalam acara Yadnya Kasada.
Beberapa upacara pendahuluan juga sebelumnya telah dilakukan sebelum melaksanakan upacara Yadnya Kasada. Pada masa itu, masyarakat suku Tengger akan melaksanakan sejumlah upacara lain diantaranaya; upacara "mepek" yang akan dilaksanakan pada malam sebelum malam Kasada. Upacara "mepek" merupakan upacara permohonan ijin kepada yang Mahakuasa Hyang Widi Wasa. Pada hari berikutnya, warga suku Tengger akan melaksanakan upacara Tayuban di Pakis Bincil di bibir kaldera Gunung Bromo untuk melarungkan sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai peringatan akan adanya sebuah legenda yang menjadi cikal bakal terbentuknya masyarakat Tengger.
Pada akhirnya tiba saatnya masyarakat Tengger melaksanakan upacara yang utama yaitu Yadnya Kasada. Dalam upacara puncak ini, lebih dari 40 dukun yang mewakili setiap desa-desa di seputaran bromo berkumpul untuk merayakannya. Dengan berselempang selendang kuning serta kombinasi celana hitam dengan kain batik, mereka akan memimpin upacara yang konon sangat akbar di wilayah Bromo. Para dukun tersebut tergabung dalam perkumpulan dukun-dukun wilayang Tengger atau biasa disebut sebagai Paruman Dukun Tengger.
Selengkapnya...









